Malam ini sendiri di tepian tempat tidurku. Seprainya acak-acakan, basah oleh air mata. Aku meringkuk, berusaha memeluk diri sendiri. Menatap jam dinding, sungguh aku benci menunggu. Dan kau yang kutunggu hanya menyisakan sepertiga harapan lewat layar handphoneku.
Tak apa, tukasku tetiba cuek sambil menatap langit-langit kamar. Memulai usaha untuk memejamkan mata hingga esok pagi. Biar rasa-yang-tidak-kutahu-namanya tersimpan rapi dalam laci ruang mimpi
Jangan gusar, aku mencintaimu. Dulu, kini dan nanti. Perayaan hari ini, biar kurayakan dengan mata terpejam

